TUTUP
TUTUP
SPORT

Fakta Miris di Olimpiade Rio 2016

Atlet-atlet papan atas dunia tak mampu menarik minat penonton.
Fakta Miris di Olimpiade Rio 2016
Seorang anak perempuan saat menyaksikan pertandingan rugby (REUTERS)
VIVA.co.id - Olimpiade Rio de Janeiro 2016 telah memasuki hari ke-5 penyelenggaraan. Akan tetapi, ada fakta miris di balik ketatnya persaingan atlet di ajang Olimpiade edisi kali ini.

Sebagai kejuaraan olahraga terbesar di dunia, Olimpiade sepatutnya mendapat perhatian luar biasa. Ratusan atlet papan atas dunia dari berbagai cabang olahraga berlaga di sini.

Namun, seperti dilansir Daily Mail, animo masyarakat untuk menonton langsung cukup membuat miris. Beberapa cabang olahraga seperti kano, tenis, dan rugby bahkan sepi peminat. Untuk sepakbola yang terkenal di Brasil pun juga sepi.

Padahal di cabang olahraga tenis turt berlaga atlet-atlet top seperti Serena Williams, Novak Djokovic, dan Rafael Nadal. Bahkan, saat seremoni pembukaan di Stadion Maracana pun, masih banyak bangku tribun yang kosong.



Fakta ini amat bersebrangan dengan pernyataan panitia pelaksana Olimpiade Rio 2016 beberapa waktu lalu. Mereka mengklaim telah berhasil menjual 84 persen dari 7,5 juta tiket yang dipasarkan.

Melihat sepinya penonton yang datang langsung ke arena pertandingan. Atlet lari asal Jamaika, Usain Bolt sampai menyuarakan ajakan melalui media sosial Twitter miliknya.

"Hai, saya Usain Bolt. Pastikan anda sudah membeli tiket dan datanglah menonton. Itu akan sangat luar biasa," ajak Bolt dalam sebuah tayangan video.

Kecilnya minat masyarakat untuk menyaksikan langsung Olimpiade Rio 2016 tak lepas dari pengaruh isu sosial dan politik Brasil beberapa waktu belakangan. Selain marakanya penyebaran virus zika, banyak warga negara lain yang enggan datang karena faktor keamanan.

Beberapa pekan sebelum Olimpiade Rio 2016 dimulai, ramai adanya kabar demonstrasi dari aparat kepolisian dan pekerja kesehatan. Mereka bahkan memperingatkan bahaya bagi turis asing yang datang ke Brasil.

Gaji bulanan yang terus ditunggak oleh pemerintah, dan tunjangan fasilitas kantor yang berhenti membuat mereka enggan mengerjakan tugas. Apalagi, tingkat kriminalitas di Brasil amat tinggi.
KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP