TUTUP
TUTUP
SPORT

Enam Momen Kontroversial yang Terjadi di PON 2016 Jabar

Ada yang memprotes sehingga menimbulkan kericuhan.
Enam Momen Kontroversial yang Terjadi di PON 2016 Jabar
Kericuhan terjadi di cabang Wushu PON 2016 Jawa Barat (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

VIVA.co.id – Masalah demi masalah terus muncul dari gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 di Jawa Barat, mulai dari kecurangan wasit hingga regulasi yang tidak jelas. Terdapat daftar "borok" yang terjadi dalam lima hari pertama gelaran.

Ajang multi event olahraga terbesar di Indonesia tersebut memang banyak dikeluhkan oleh kontingen dari daerah lain. Banyak yang menilai tuan rumah mengambil keuntungan demi meraih status juara umum.

Kericuhan, memutuskan mundur, sampai nama atlet dicoret sudah mewarnai PON 2016 sejak dibuka 19 September kemarin. Kritik pun berdatangan.

Berikut deretan Kontroversi PON 2016 yang sudah dirangkum oleh VIVA.co.id hingga Jumat, 23 September 2016

1. Ricuh di Pertandingan Wushu
Berlangsung di GOR Pajajaran, Bandung pada Selasa 21 September 2016, pertandingan sanda wushu antara tuan rumah Jawa Barat melawan Jawa Timur menimbulkan kericuhan. Alasannya karena wasit dianggap tidak bekerja dengan baik.

Alhasil, tim ofisial kedua tim tampak saling emosi, dan memancing emosi penonton yang memadati GOR Pajajaran juga. Pertandingan sempat dihentikan sekitar 40 menit karena hal tersebut.

2. Pemukulan Atlet Polo Air
Atlet cabang olahraga polo air asal DKI Jakarta, menjadi korban pemukulan oleh oknum aparat keamanan yang berasal dari TNI. Padahal, saat itu mereka hanya menjadi penonton dalam pertandingan semifinal polo air.

Insiden terjadi pada pertandingan yang mempertemukan Jawa Barat dan Sumatera Selatan di Jalak Harupat, Bandung, Senin 19 September 2016.  Kepala polo air DKI, Calvin, menjelaskan saat itu penonton yang sebagian mengenakan seragam melempar botol minuman pertandingan dihentikan.

Karena posisi duduk berada di bawah suporter, atlet DKI sempat meminta kepada mereka agar berhenti melempar botol. Namun, oknum TNI justru terus melakukan lemparan sehingga berujung kepada adu mulut dan serta baku hantam.

3. Ketua umum PB FORKI Tolak Mengalungkan Medali
Keberpihakan wasit/juri cabang olahraga karate PON 2016, amat tampak sejak hari pertama. Bahkan, Ketua umum PB FORKI, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, gerah dengan sikap wasit.

Sikapnya itu ditunjukkan dengan mengurungkan niat mengalungkan medali kepada pemenang. Bahkan, Gatot memberikan gestur yang memperlihatkan kekecewaannya atas keputusan wasit.

"Ketum PB FORKI kemarin, waktu mau pulang, harusnya dia mengalungkan medali emas pertama lho, tetapi tidak mau. Dia berdiri, dia beginiin wasit (acungkan jempol), terus begini (jempol ke bawah) lho. Sampai sekarang, tidak datang lagi," kata Ketua Umum Pengprov FORKI DKI, Dody Rahmadi Amar, di Hotel Patra Jasa, Senin 19 September 2016.

"Atlet kata putra kita, Stanley jelas menang kok. Itu kenapa Pak Gatot kecewa, karena menonton. Yang jadi juara yang mengalahkan Stanley. Dia tidak pernah juara di level apa pun. Dia bisa ngalahin juara SEA Games (Faisal Makassar)," sambungnya.

4. Aksi Boikot di Cabang Olahraga Judo
Lagi-lagi wasit dianggap tidak adil dalam memimpin sebuah pertandingan. Ini yang terjadi pada pertandingan cabang olahraga Judo, hingga membuat kontingen DKI Jakarta dan Jawa Timur melakukan aksi boikot.

Ketua Bidang Hukum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur, Amir Burhanuddin, mengatakan, aksi ini merupakan kelanjutan dari protes yang diajukan pihaknya di pertandingan nomor kata (seni) yang berlangsung kemarin. Mereka juga akan melayangkan surat protes kepada Dewan Hakim PB PON.

"Kami berharap, akan segera ada keputusan yang baik dari protes yang kami utarakan seperti saat kami memprotes hasil yang ada di gantole. Proses setelah protes resmi, paling lama dua hari," kata Amir kepada wartawan, Senin 19 September 2016.

5. Kecurangan di Cabang Berkuda
Ada 9 kontingen yang merasa ada banyak terjadi kecurangan di cabang olahraga berkuda. Kecurangan pertama yang menuai banyak protes yakni diberinya fasilitas wild card kepada 2 ekor kuda milik Jabar. Kebijakan tersebut dianggap memberikan keuntungan terhadap tuan rumah.

"Di Pordasi tidak ada fasilitas wild card, dan ini tidak tanggung-tanggung bisa sampai 2 ekor kuda sekaligus," kata manajer berkuda DKI Jakarta, Alex Asmasoebrata, saat konferensi pers di Hotel Patra Jasa, Bandung, Senin 19 September 2016.

Selain itu, Alex membeberkan kecurangan lain yang dialaminya. Dia mengatakan panitia pelaksana sengaja memberikan kandang yang tidak sepatutnya untuk kuda-kuda kontingen lain.

6. Tim Biliar DKI Merasa Dijegal
Kontingen biliar DKI Jakarta merasa dijegal sebelum Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 Jawa Barat. Panitia pelaksana dan PB POBSI dianggap terlalu mudah mengganti peraturan.

Tudingan tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, menurut pelatih biliar DKI, M Azhari Tanjung, ada kejanggalan ketika ada beberapa nomor yang dihapus dalam PON 2016.

Padahal, ketika di Pra PON  nomor-nomor seperti 9 ball dan 8 ball putri tetap dipertandingkan. Dan tim Ibukota ketika itu meloloskan 3 atletnya, salah satunya Angeline Magdalena Ticoalu.

Akan tetapi, Panpel cabang olahraga biliar di PON dan PB POBSI mengeluarkan kebijakan lain. Kontingen DKI hanya boleh memainkan 2 atlet di nomor tersebut. 

 

(ren)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP