TUTUP
TUTUP
SPORT

Indonesia Open yang Kian 'Mencekik' Rakyat

Harga tiket Turnamen Indonesia Open dianggap sudah tak masuk akal.
Indonesia Open yang Kian 'Mencekik' Rakyat
Pertandingan Marcus Gideon/Kevin Sanjaya di Indonesia Open (Dokumentasi PBSI)

VIVA.co.id – Gelaran bulutangkis kelas dunia, BCA Indonesia Open Superseries Premier, kembali menyapa publik Tanah Air pada pertengahan Juni 2017 ini. Namun, gelaran Indonesia Open kali ini menimbulkan polemik.

Hal itu dipicu dari harga tiket yang melonjak. Tahun ini, harga tiket Indonesia Open naik 15 hingga 20 persen, dengan kisaran harga termurah Rp35.000 dan paling mahal Rp1.000.000.

Berbagai komentar pun muncul terkait fenomena ini. Pro kontra berkembang di kalangan masyarakat, seiring dengan berkembangnya bulutangkis sebagai magnet dan komoditas olahraga yang bisa mendatangkan keuntungan.

"Harga tiketnya tak masuk akal. Tak semua pecinta bulutangkis dari kalangan menengah ke atas. Adanya event seperti Indonesia Open seharusnya bisa jadi hiburan masyarakat menengah ke bawah," kata salah seorang fans, Patrick, kepada VIVA.co.id, Rabu 14 Juni 2017.

"Dengan harga yang tak masuk akal itu, PBSI sebaiknya tetap bisa menjadikan gelaran ini sesuatu yang merakyat," lanjutnya.

Bukan hanya Patrick, Ratu Qurroh Ain, gadis 23 tahun asal Bogor, juga ikut mengkritik harga tiket Indonesia Open tahun ini.

"Mungkin PBSI lagi uji coba dengan harga mahal seperti sekarang, orang masih mau nonton langsung atau tidak. Soalnya, tiket Indonesia Open yang biasa dijual calo, sudah dimahalin saja sering ludes. Yang tak laku mudah-mudahan bisa langsung banting harga," terang Ratu.

Pengamat bulutangkis nasional, Broto Happy Wondomisnowo, pun angkat bicara terkait kondisi ini. Broto menyatakan, PBSI sudah seharusnya meninjau ulang harga tiket Indonesia Open.

"Bulutangkis ini sesuatu yang punya nilai. terbukti dari manisnyua nilai tersebut, kini jadi barang jualan yang menarik ditawarkan. Perlu dicermati apakah harga tersebut mampu dijangkau atau malah jadi ironi penggemar setia bulutangkis yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa," ujar Broto.

 

Selanjutnya...

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TUTUP